You are currently viewing Juara Dunia Barongsai dari Indonesia

Juara Dunia Barongsai dari Indonesia

Sejak tahun 2013, barongsai ternyata sudah diakui oleh Pemerintah Indonesia sebagai salah satu cabang olahraga di tanah air. Jadi perlu di ingat, jika melihat pemain barongsai, kita juga dapat menyebutnya sebagai atlet.

Kesenian barongsai mulai populer pada zaman dinasti Selatan-Utara (Nan Bei) di China, atau tepatnya pada tahun 420-589 Masehi. Sementara di Indonesia, kesenian ini diperkirakan mulai masuk ke tanah air sejak abad ke-17, ketika terjadi migrasi besar dari China Selatan. Setelah itu, tarian budaya asal negeri Tirai Bambu ini terus berkembang sampai setiap daerah di Indonesia memiliki perkumpulan barongsai dan akhirnya menjadi akulturasi budaya China di Indonesia.

Nama barongsai sendiri merupakan cerminan akulturasi tersebut.
Kata ‘Barong’ berasal dari kesenian boneka Bali yang dimainkan oleh manusia di dalamnya, sementara ‘Sai’ dalam bahasa Hokkian berarti singa. Untuk penyebutan tarian ini juga rupanya berbeda-beda. Nama asli kesenian ini di China adalah ‘Wu Shi’, sedangkan negera barat menyebutnya sebagai ‘Lion Dance’.

Perkembangan barongsai di Indonesia kemudian berhenti pada tahun 1965 setelah meletusnya Gerakan 30 S/PKI. Karena situasi politik pada waktu itu, segala macam bentuk kebudayaan Tionghoa di Indonesia dibungkam. Barongsai dimusnahkan dan tidak boleh dimainkan lagi. Satu-satunya tempat di Indonesia yang bisa menampilkan barongsai secara besar-besaran adalah di kota Semarang, tepatnya di panggung besar kelenteng Sam Poo Kong atau dikenal juga dengan Kelenteng Gedong Batu.

Namun, perubahan situasi politik yang terjadi di Indonesia setelah tahun 1998 membangkitkan kembali kesenian barongsai dan kebudayaan Tionghoa lainnya. Banyak perkumpulan barongsai kembali bermunculan, bahkan sekarang jumlahnya semakin masif dan tak hanya dimainkan oleh kaum muda Tionghoa saja, tetapi banyak pula kaum muda pribumi yang ikut serta. Kesenian barongsai ini memang meniscayakan semangat yang tidak asing lagi bagi orang Indonesia, yakni semangat gotong royong. Lambat laun, barongsai pun menjadi kebudayaan multietnis di Indonesia.

Sejak tahun 2013, perlu kita ketahui bersama bahwa barongsai telah menjadi cabang olahraga di Indonesia. Hal tersebut di sah kan oleh Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI). Pada tahun 2015, barongsai pun memiliki badan, Federasi Olahraga Barongsai Indonesia (FOBI). Setahun kemudian, untuk pertama kalinya barongsai masuk dalam cabor yang dipertandingkan dalam ajang Pekan Olahraga Nasional (PON) XIX Jawa Barat tahun 2016. Sementara saudara kandungnya, yakni liong naga dan peking sai juga masuk dalam PON pada periode tersebut.

Lalu mengapa barongsai bisa jadi cabang olahraga? tarian barongsai ini menyuguhkan unsur akrobatik yang melibatkan olah tenaga, kecepatan, ketepatan, keseimbangan, ketangkasan, dan koordinasi motorik. Barongsai juga sudah banyak memberikan pertunjukan kepada masyarakat. Atas pertimbangan tersebut barongsai diangkat sebagai olahraga masyarakat.

Barongsai Indonesia Juara Dunia
Tanpa kita sadari, prestasi olahraga barongsai Indonesia sudah sampai level internasional. Sebut saja Kong Ha Hong, klub barongsai asal Jakarta yang berhasil menjadi juara dalam berbagai kejuaraan kelas dunia. Kelompok barongsai ini sudah berdiri sejak 1999. Mereka rutin menggelar latihan tiga kali dalam seminggu. Bila musim kompetisi tiba, latihan intensif setiap hari dilakukan selama dua hingga tiga bulan. Wajar saja, jika usaha dan kerja keras mereka berbuah prestasi hingga ke kancah dunia.

Barongsai Kong Ha Hong empat kali bertengger di posisi teratas sebagai Juara Dunia. Seperti di Guangzhou Open 2009, Living World Intetnational Championship 2014 dan 2017, serta Beijing Open 2015. Selain itu, kelompok barongsai yang dibina oleh Ronald Sjarif ini pernah bermain di Istana Negara ketika Republik Indonesia sedang memperingati ulang tahun kemerdekaan yang ke-65, tahun 2010 silam.

Kelompok barongsai ini membuka peluang bagi siapa saja yang ingin bergabung. Kelompok barongsai yang beranggotakan 60 personel ini tidak hanya dari keturunan Tionghoa saja, melainkan mengusung Kebhinekaan dengan anggota dari berbagai suku dan agama, ada islam, katolik, protestan, buddha dan konghucu. Tidak hanya laki-laki, dalam anggota barongsai ini juga terdapat perempuan.

Sebagai hiburan, barongsai mengedepankan interaksi dengan penonton. Penampilan mereka membuat ribuan pasang mata berdecak kagum. Sementara pada level kompetisi, kesempurnaan penampilan tidak dapat ditawar. Dengan tingkat kesulitan tinggi dan ekspresi dari singa itu sendiri, semua melebur menjadi satu kesatuan layaknya hewan yang sedang bercerita. Ketika cerita tersebut berpadu dengan kreatifitas anak bangsa, nyatanya kebudayaan multietnis ini mampu membawa nama Indonesia harum di mata dunia.
Kita semua tentu tahu, bahwa bangsa kita ini adalah negara adidaya dalam hal budaya.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.