You are currently viewing Sang Juara Dunia Ganda Putra

Sang Juara Dunia Ganda Putra

Usianya memang enggak lagi muda, tapi mereka masih sanggup untuk jadi Juara Dunia.

Pebulu tangkis Hendra Setiawan lahir di Pemalang, Jawa Tengah, pada 25 Agustus 1984. Dan Mohammad Ahsan, pasangan emasnya, lahir pada 7 September 1987 di Palembang. Artinya, Hendra sekarang usianya genap 35 tahun. Sementara Ahsan, hanya empat tahun lebih muda, yakni 31 tahun.

Karena itulah, salah satu ganda campuran terbaik Indonesia ini dijuluki ‘The Daddies’, alias bapak-bapak. Nah, kebetulan, keduanya memang berstatus sebagai bapak. Hendra punya tiga orang anak dari sang istri bernama Sandiana Arief. Sedangkan Ahsan, dari pernikahannya dengan Christine Novitania, memiliki dua orang anak.

Meski sama-sama sudah memiliki anak, namun di dalam lapangan bulu tangkis Hendra/Ahsan masih mempu membuktikan diri sebagai pasangan ganda putra terbaik dunia.

Terakhir, mereka sukses membawa pulang medali emas di Kejuaraan Dunia Bulu Tangkis 2019 (BWF World Championships) yang digelar di Basel, Swiss. Di partai puncak, tepat di hari ulang tahun ke-35 Hendra, mereka melibas pasangan Jepang, Takuro Hoki/Yugo Kobayashi dengan skor; 25-23, 9-21, dan 21-15.

Bagi Hendra/Ahsan, ini medali emas ketiga alias hattrick mereka di Kejuaraan Dunia Bulu Tangkis. Sebelumnya, pada tahun 2013 dan 2015, The Daddies juga berhasil menggondol pulang medali emas usai menjadi juara di nomor ganda putra.

Satu lagi, di Kejuaraan Dunia ini, Hendra/Ahsan punya rekor langka! mereka jadi ganda putra pertama yang tidak pernah kalah sepanjang sejarah mengikuti ajang ini. Wow, disapu bersih!

Khusus bagi Hendra, ini merupakan gelar juara dunia keempatnya. Sebab, selain bersama Ahsan, pada 2013 dan 2015, Hendra juga pernah memenangkan gelar Juara Dunia saat berpasangan dengan Markis Kido pada tahun 2007. Dengan begitu, Hendra pun menyamai rekor legenda bulu tangkis Indonesia, Liliyana Natsir yang pernah empat kali bergelar Juara Dunia untuk nomor ganda campuran. 

Sinar kebintangan Hendra/Ahsan begitu terang di tahun 2019. Total, hingga Agustus 2019, pasangan yang kini menduduki posisi kedua peringkat dunia ini telah tujuh kali tampil di partai final.

Ya, sebelum membawa pulang trofi Kejuaraan Dunia, sepanjang 2019 Hendra/Ahsan sempat tampil di partai puncak Indonesian Master, All England, Singapore Open, New Zealand Open, Indonesia Open, dan Japan Open. Mereka jadi juara di New Zealand Open dan All England Open.

Sebelumnya, Hendra/Ahsan juga pernah mencatat prestasi fenomenal saat tampil di delapan kali final pada tahun 2013. Lalu pada 2014 tampil di lima partai final, dan 2015 mereka tampil di empat partai final.

Sejak awal karirnya menjadi pebulu tangkis profesional, secara total Hendra Setiawan sudah mengumpulkan kurang lebih 41 piala di lemari trofinya. Sementara Mohammad Ahsan, kurang lebih 64 trofi sudah dikumpulkan sebagai catatan prestasi dalam berbagai kompetisi.

Dengan begitu, kini keduanya pun disebut-sebut tengah meniti jalan untuk menjadi legenda baru bulu tangkis dunia.

The Daddies bisa menjadi inspirasi bagi anak-anak muda Indoensia untuk mengejar mimpinya. Kalau mereka yang udah enggak muda saja bisa jadi Juara Dunia, seharusnya generasi muda bisa berprestasi melebihi mereka. Mari kita berjuang bersama, untuk Indonesia Juara Dunia.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.